Pacarku Yandere, Tapi Aku Ngga Peduli Soal Itu, Soalnya Pas Aku Bilang Sama Dia Gimana Bucinnya Aku Sama Dia, Dia Jadi Gugup Juga Imut (Bagian 2)

Adjust font size:

A Yandere As A Girlfriend, But That Doesn’t Matter Because When You Tell Her How Much You Love Her, She Gets All Twitchy And Cute

Pacarku Yandere, Tapi Aku Ngga Peduli Soal Itu, Soalnya Pas Aku Bilang Sama Dia Gimana Bucinnya Aku Sama Dia, Dia Jadi Gugup Juga Imut

(Bagian 2)

Sumber: KNOXT, Kakuyomu

Author: Shiryu


 

———Pagi hari.

Segera setelah nyawaku terkumpul dibangunkan oleh cahaya yang masuk melalui sela-sela tirai, aku merasa tubuh aku berat.

Aku tidur cukup awal tadi malam dan tidur selama tujuh jam, jadi aku tidak merasa aku masih capek.

Jadi, seperti biasanya———

 

“Hehehe…! Bau kamarnya Yuu-kun, bau kasurnya…! Wah, wajah boboknya juga imut banget! Aku pengan makan dia…! Apa boleh? Apa ngga apa-apa? Aku pacarnya, kan? Ngga apa-apa banget ya kan, malah, aku harus ya kan…!”

 

Ya, Benar, itu Reina yang ada di atasku.

Mungkin karena dia ingin bertemu denganku, dia datang ke rumahku pagi-pagi sekali.

 

“Met pagi, Reina.”

“Eh!?”

 

Segera setelah aku memanggilnya, aku menarik tangan Reina dan membaringkannya di sampingku.

Aku membaringkannya tepat di sebelahku sehingga aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas.

Matanya terbuka lebar, seolah dia terkejut dengan tindakanku.

Bulu matanya yang panjang, kulitnya bersih nan indah, dan yang mengejutkan dia hampir tidak mengenakan riasan apa pun.

 

“Ah, uh…!”

 

Bibir merah mudanya gemetar dan suara seperti itu terdengar.

Rambut hitam panjang Reina sedikit menutupi wajahnya, jadi ia menyisirnya dengan tangannya.

Aku Suka Web Novel - tresnokoe[dot]xyz - Web Novel Translation

Rambutnya sangat berkilau dan menyenangkan saat disentuh, dan aku ingin menepuknya, atau lebih tepatnya, membelainya, setiap hari.

 

“Kamu bangun jam berapa hari ini, Reina? Selalu seneng buat ketemu kamu, tapi apa kamu ngga apa-apa?”

“Ngga apa-apa, ini belum jam enam…! Yuu-kun, hei, kamu deket banget…!”

 

Wajahnya memerah dan imut.

Dia bilang dia akan memakanku, tapi aku ingin tahu apakah dia baik-baik saja dengan ini?

Aku berharap aku bisa kapan-kapan.

 

“Gimana kalo kita tidur bareng kaya gini?”

“Apa? Itu menggoda banget, tapi hatiku udah ngga bisa…!”

“Mangats.”

“Uh, ya, aku bakal lakuin yang terbaik…!”

 

Oke, aku masih ngantuk, jadi aku akan memakai Reina sebagai bantalku dan tidur la———

 

“Abang bego! Sarapan udah siap, bangun!”

 

Akane membuka pintu kamar dengan suara keras dan berjalan masuk.

 

“…Kamu kesini lagi, Reina? Aku pikir kamu penyusup.”

 

Akane menatapku dan Reina, mengatakan itu sambil menghela nafas.

Aku tidak punya pilihan selain bangun dan bangun dari tempat tidur.

 

At the training ground where the members of the knight order practiced hard.
As an instructor, I was teaching swords to all the Knights.

"Then, the next step is to swing the sword a thousand times. You won't improve just by swinging blindly. You need to imagine the opponent's movement."
""A, thousand times?""
"Kaizer-san. Are you sure you not making a mistake one digit?"
"Oh, right."
"Hoo~..."
"When I and Elsa were in the village, we used to swing 10,000 times a day, but, you guys won't be done until the day changes, will you?
""You misinterpret the word mistake on one digit, are you?""

The standard of my and Elsa's training was probably too high, and most of them couldn't follow even the light menu.

"Come on, you'd better hurry up or it's going to get dark."

I clapped my hands and urged them.
The knights began to swing their swords while screaming.
As the warming up, they were running ten times around the training ground with their armor on, few of them could swing their swords properly.

"Is Knight Commander Elsa doing this training from an early age..."
"I thought she was a genuine genius swordsman.....that's why she's so strong.. we didn't even reach half effort she did."
"Either Kaizer-dono or Knight Commander Elsa is outrageous..."

I saw the helpless knights and mumbled.

"Umm. Looks like our normal isn't everyone's normal.''
"I was surprised when I came to the royal capital, because the training of the Knights, which was known to be tough, was felt only in lukewarm water. The training I had done with chichiue was, to most people, out of the norm."

Elsa murmured next to me.

"I didn't mean to be particularly strict...."
"I think so, too"

The knights couldn't endure the training and exhausted. Then one by one, they fell like a broken doll.
But, one person among them――.

“Jangan kuatir, aku udah kasih izin.”

“Nggak, aku tinggal bareng, jadi dia butuh izinnya aku.”

“…Itu sudah pasti. Akane, maafin aku, bebasin aku dengan kelucuannya Reina.”

“…Kurasa aku harus anggep ini normal sekarang.”

“Oh, selamat pagi, Akane.”

Aku Suka Web Novel - tresnokoe[dot]xyz - Web Novel Translation

“Met pagi. Mau sarapan bareng, Reina?”

“Ya makasih.”

“Ya, ya, aku senang adikku bisa akrab sama calon istriku.”

“Calon istri…!”

“Ya, ya, aku bakal ambil kamu buat makan malam!”

 

Reina membeku lagi, wajahnya memerah, tetapi Akane mengabaikannya, seperti biasanya, dan meninggalkan ruangan, menuju ruang tamu.

Aku membawa Reina ke ruang tamu, dan kami bertiga sarapan bersama.

Orang tua kami tidak di rumah, ayah aku melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri tahun lalu dan ibu bersamanya.

Ayahku nol besar dalam pekerjaan rumah, jadi ibu harus ikut.

Dan sepertinya tidak akan kembali selama beberapa tahun lagi, tetapi karena Reina dan aku sudah di SMA, kami akan baik-baik saja.

 

“Apa kamu yang buat ini, Akane?”

“Ya.”

“Apa kau masukkin rambut yang aku kirim ke kamu?”

“Aku buang itu. Jijik tau.”

“Kenapa? Aku mau semua rambutku di semua makanan yang dia makan sama Yuu-kun…!”

“Jika dia makan rambut, dia bakalan sakit perut, dan kau ngga bisa lakukain itu.”

“Aku ngga apa-apa. Aku bisa memakan rambut Reina.”

“Diam, dasar abang bego.”

 

Lucu, aku hanya berbicara tentang makananku.

Ngomong-ngomong, ayo diam dan makan makanan yang Akane buat. Ya, lezat.

 

“Kan, Yuu-kun bilang ngga apa-apa.”

“Tolong jangan libatin aku di permainan spesial kalian. Maksudku, jangan makan rambut, itu jijik tau.”

“Oh, Akane, aku selalu mikir kalo kamu punya lidah yang tajem banget.”

“Tolong anggep itu kalo aku jujur.”

“Mirip sama Yuu-kun. Dia bilang semua yang terlintas di pikirannya.”

“Aku ngga bilang sesuatu tanpa berpikir sebanyak yang kau lakukan.”

 

Ya, masih menyenangkan melihat calon istri dan saudara perempuanku bergaul dengan baik.

Jadi kami sarapan bersama dan berangkat ke sekolah.

Cecilia akhirnya sampai di depan makhluk buas itu.

Perbedaan ukurannya begitu besar sehingga ia harus mendongak untuk melihat wajah binatang itu, dan Cecilia yang ramping akan terinjak-injak dalam sekejap.



"GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!"

"Aku ngerti...... aku ngerti kok, Julis ......"



Cecilia memeluk kaki depan yang besar dan kokoh itu.



"Itu pedih, kan? Itu menyiksa, kan? Aku yakin Julis berusaha ngelindungin seseorang terus menjadi kaya gini....... Beneran deh, Julis itu baik banget. Biarpun dia sangat menderita sendiri."



Makhluk buas itu mengarahkan kaki depannya yang lain ke Cecilia, mencoba menarik Cecilia yang memeluknya menjauh.

────lalu.



"Eh!?"

"I, ini......"



Kaki depan itu berhenti tepat pada waktunya.

Cecilia tidak terluka, dan kaki depan itu berhenti tanpa tanda perlawanan.

Namun penderitaan itu muncul dalam bentuk teriakan.



"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!"



Tetapi.



"Aku belum bisa balas budi sama Julis buat segalanya...... Julis selalu ngelindungi aku, tapi aku terus banyak ngerepotin Julis.────Cuma ini yang bisa aku lakuin buat Julis sekarang."



Cecilia menguatkan lengannya yang memeluk kaki depan itu.

Ia ingin kehangatannya dirasakan, ia ingin perasaannya tersampaikan.

Cecilia tersenyum lembut pada makhluk buas itu, mengatakan kepadanya bahwa tidak apa-apa sekarang, bahwa dia tidak perlu berusaha terlalu keras.



"Aku bakal ada di sisi Julis...... sepanjang waktu, sepanjang masa. Julis ngga cocok sama penampilan kaya gitu, tahu? Kalo kamu balik lagi ke Julis yang biasanya, yang konyol, yang bisa diandalin, sama yang lembut.────Aku bakal seneng banget."

Reina dan aku berada di tahun kedua SMA dan berada di kelas yang sama.

Kami duduk bersebelahan, di belakang kelas dekat jendela. Aku sedang duduk di dekat jendela, dan kursi Reina ada di sebelahku.

Aku memiliki nama keluarga Mikyo, dan Reina adalah Yasukuni, jadi urutan presensi kami tidak terlalu dekat.

Karena itu teman-teman sekelasku yang tahu tentang hubungan kami melakukan sesuatu.

 

“Aku takut kalo ngebiarin Yuu-kun dan Yasukuni-san.”

“Ya, Mikyo-kun harus sama Reina-chan. Pas Mikyo-kun ngobrol sama cewek lain, Reina-chan keliatan kaya lagi nyantet.”

“Kita mesti pastiin kalo ngga ada seorang pun kecuali Reina yang bisa duduk di sekitar Mikyo-kun.”

 

Itu yang aku maksud.

Aku senang bahwa semua teman sekelas aku sangat baik.

Saat itu waktu makan siang, dan Reina dan aku duduk bersama, makan siang bersama.

 

“Aku buatin makan siang buatmu, Yuu-kun. Kalo itu aku, aku bakal buatin kamu sarapan, makan siang, dan makan malam. Tubuh tersusun dari makanan, jadi bayangin kalo masakanku nyusun kami bikin aku sangat bersemangat sampe aku ngga bisa tidur.”

“Makasih, Reina. Suatu hari, kalo kita nikah, aku pikir kamu bakal bisa memasak semua sarapan, makan siang, dan makan malamku dan buat aku tumbuh.”

“Oh…!”

“Juga, kamu mesti tidur nyenyak, kalau engga kamu bakalan sakit.”

“Iya sih, tapi aku ngga bisa tidur sama sekali pas aku fantasiin kamu. Aku tidak bisa tidur sama sekali pas aku mikirin apa yang kamu lakuin sekarang, atau kalo kamu mandi…”

“Yah, mungkin kalo kita tidur bareng kamu bakal tidur lebih nyenyak soalnya kamu ngga perlu mikirin apa yang aku lakuin. Apa kamu mau tidur bareng hari ini?”

“Apa? Aku bakalan mati kalo aku tidur bareng…!”

 

Ekspresinya berubah begitu drastis, dari pupil matanya yang melebar penuh dan mengeluarkan aura gelap, hingga wajahnya memerah dan malu, tapi dia masih sangat imut.

Our fanpage
Aku Suka Web Novel - tresnokoe[dot]xyz - Web Novel Translation

Setelah itu, aku makan bekal Reina dan menghabiskan istirahat makan siang dengan santai.

 

 

 

 

Sekolah telah berakhir.

Seperti biasa, aku pulang dengan Reina, tapi karena dia sedang bertugas, dia harus pergi ke ruang guru, jadi aku menunggunya di kelas.

 

“Yuu-kun, kamu belum pulang?”

“Hmm? Ya, aku nungguin kamu.”

 

Saat aku menunggu Reina, bermain ponsel, dua dari teman sekelasku datang menyapaku.

 

“Oh gitu. Yasukuni-san ada tugas siang, ya?”

“…Hei, udah berapa lama kamu pacaran dengan Yasukuni-san?”

“Dari kelas delapan.”

“Dari sebelum SMA. Aku tidak tahu.”

 

Orang ini dan aku sekelas sejak tahun kedua SMA kami, jadi dia tidak akan tahu.

 

“Jujur, Yasukuni-san sangat berat, bukan?”

“Berat? Dia cukup enteng kok. Pas aku bangun pagi ini, dia ada di atasku, tetapi dia enteng banget.”

“Tidak, bukan itu maksudku. Aku bener-bener penasaran sama situasimu.”

“Dia dateng ke rumahku tiap hari sama liatin aku tidur.”

“Waa, itu agak ngeri, ya kan?”

“Beneran?”

 

Aku ngga tahu kalo aku, tetapi apakah itu ngeri buat orang lain?

Tentu, aku bakal takut kalo aku bangun ada orang asing berada di atasku, tetapi itu Reina.

 

“Cuma liatin kalian di sekolah, aku tahu dia benar-benar obsesif.”

“Hei, jangan bilang gitu.”

 

Teman yang lain berkata begitu, tetapi dia melanjutkan dengan setengah tersenyum,

 

“Ngga ngga. Soji setuju, kan? Yuu-kun cuma ngobrol sama cewek lain aja, dia melototin kaya dia lagi nyantet. Obsesif aja ngga cukup, kan?”

“………”

“Yuu-kun itu pintar juga keren, jadi aku pikir dia bakalan cukup populer. Kayaknya Yasukuni-san ngalangin dia.”

 

Dia tersenyum dan melanjutkan,

 

“Aku ngga tahu apa yang dipirin Yasukuni-san. Jika kamu Yuu-kun, kamu harusnya sama cewek yang lebih baik.”

“Hei.”

“Hm?”

 

Aku meraih bahunya dan menyela.

 

“Apa? Maksudku, kenapa kamu remes bahuku?”

“Cuma itu yang mau kamu omongon?”

“Ya, yah… tapi bahuku sakit…!”

“Aku tanya ke kamu apa cuma itu.”

“Ya…”

 

Aku mengajukan pertanyaan sederhana kepadanya, dan untuk beberapa alasan dia menjadi sopan, tetapi aku tidak terlalu peduli.

 

“Aku bakal jawab kalo begitu. Aku kasih tau ya, Reina ngga obsesif di pengertian itu, malah kalo dia obsesif di matamu, itu ngga masalah. Kau bukan pacarnya, dia pacarku.”

“Uh…”

“Sama ngga ada cewek yang lebih baik selain Reina buatku. Cuma anak-anak yang dilahirin Reina yang bisa menyamain Reina. Anak Reina sama aku, pasti imut. Soalnya anak dari Reina yang super imut.

Kau ngga tahu? Reina selalu kuatir sama keringat pas gandengan tangan dan bakal lap telapak tangannya pake roknya. Wajahnya gampang memerah. Itu lucu dan aku gandeng tangannya sebelum Reina lap telapak tangannya setiap saat.”

 

Mengapa wajah orang ini begitu pucat ketika aku menjelaskannya kepadanya dengan sangat hati-hati?

 

“Apa ada lagi yang pengen ditanyain? Masih ada lainnya?”

“Tidak, aku tidak… maafkan aku…”

“Oke. Bagus kalo kamu ngerti.”

 

Aku melepaskan tanganku dari bahunya, mungkin aku menggenggamnya terlalu erat, tapi biarlah.

 

“Yuu-kun!”

“Ah, Reina.”

 

Tepat saat aku selesai berbicara dengannya, Reina kembali.

 

“Maaf buat kamu nunggu.”

“Ah, ngga apa-apa. Ayo pulang kalo begitu. Sampai jumpa besok.”

“Ya, sampai jumpa besok…”

“Sampai jumpa lagi.”

 

Aku mengucapkan selamat tinggal kepada dua teman sekelas kami, lalu Reina dan aku meninggalkan kelas.

 

“Ngobrolin apa?”

“Cuma jelasin betapa baiknya Reina ke aku.”

“Hah? Engga, Yuu-kun, itu malu-maluin…!”

 

Reina, tersipu dan gelisah, lucu.

 

 

 

“Ya Tuhan, aku takut banget… aku pikir bakal mati…! Dia ngga patahin bahuku, kan?”

“Aku tahu soalnya aku satu kelas, tapi mereka itu orang yang tidak bisa bertahan tanpa satu sama lain.”

“Oh, aku pikir Yasukuni-san yang obsesif, tapi kayanya Yuu-kun juga sama…”

“Apa menurutmu itu normal buat Yuu-kun pacaran sama Yasukuni-san selama empat tahun?”

“Ya aku tahu…”

“Pertama, engga sopan ghibahin pacar seseorang.”

“Ngga, ngga, aku cuma lakuin itu buat kebaikannya sendiri…”

“Itu namanya ngerecokin, tahu.”

 

 

 

 

Aku dan Reina meninggalkan sekolah dan berjalan pulang bergandengan tangan.

Saat kami bergandengan tangan, Reina mencoba menyeka tangannya ke roknya seperti biasa, tapi sebelum dia bisa melakukan itu, aku meraih tangannya dan dia tersipu malu, betapa lucunya.

 

“Gimana makan siang hari ini? Enak?”

“Tentu aja. Semuanya menu favorit aku.”

“Hehe, aku seneng. Kamu bilang kamu suka steak hamburger, terus aku liat kamu nikmat banget makan telur dadar gulung saat sarapan, jadi aku buat ayam goreng buat pertama kalinya, tapi Yuu-kun penyuka daging.

Tapi aku juga suka kamu karena itu. Aku ingin nambahin tomat warna-warni, tetapi aku ngga bagus sama tomat.

Aku pengen nambahin ikan lain kali, salmon pilihan paling aman. Itu dimakan sama Yuu-kun terus menjadi darah dan dagingmu. Aku juga pengen dimakan oleh Yuu-kun terus menjadi darah dan dagingnya————”

“Menakjubin banget mikirin kalo pas aku nikahin Reina saya, aku bakalan bisa makan makanan lezat seperti itu tiap hari.”

“Eh?! Itu kecepetan buat nikah, Yuu-kun…!”

“Apa iya? Kita tujuh belas tahun ini, aku bakal cukup umur buat nikah tahun depan, jadi ngga bakal lama lagi, kan?”

“Ah, uh, kamu bakal nikahin aku pas aku cukup umur?”

“Ya, tentu aja. Tapi agak disayangin, aku lahir lebih awal, jadi aku punya ulang tahun yang terlambat.”

 

Aku benar-benar sangat menyesal tentang itu.

Itu tidak akan tepat setelah tahun terakhir SMA-ku, tetapi itu akan menjadi dekat upacara kelulusan aku ketika aku akan terdaftar.

Tapi karena aku lahir lebih awal, aku bisa bertemu Reina di kelas yang sama dengannya.

Jika aku lahir beberapa bulan kemudian, aku mungkin tidak akan pernah bertemu dengannya, jadi aku senang aku lahir lebih awal.

(TLN: Aku ngga begitu yakin soal ini, kemungkinan sih (yg aku tangkep), Yuu-kun lahir sekitar Februari-Maret, Tahun ajaran baru di Jepang mulai bulan April, kalo Yuu-kun lahir “beberapa bulan kemudian” Yuu-kun “ngga bakalan sekelas” dan bakal jadi adik kelas Reina….. Maybe???)

 

“Kalo gitu, ayo pergi… di hari ulang tahun Yuu-kun tahun depan!”

“Ya, itu bakal menjadi dua tahun lagi tepatnya, tapi kita bakal nikah.”

“Ya…!”

 

Reina memberiku senyum termanis dan paling bahagia hari ini dan mengangguk.

Kami pergi ke SMP bersama-sama, jadi rumah kami sangat dekat, meskipun itu adalah dua puluh menit berjalan kaki.

Itu sebabnya dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku selalu mampir ke rumah Reina dulu dan berpisah di sana untuk pulang.

Hari ini, ketika aku tiba di depan rumah Reina, aku menemukan saudara perempuannya di sana.

 

“Ah, kakak.”

“Hm? Oh, Rei-chan, selamat datang. Kamu juga, Yuu-chan.”

 

Kakak perempuan Reina, Yasukuni Kamina, tersenyum pada kami.

Dia dua tahun lebih tua dariku dan Reina, dan berada di tahun pertama universitas.

 

“Halo, kakak ipar.”

“Yah, halo. Aku udah terbiasa kamu memanggilku kaya gitu.”

 

Aku sudah sering ke rumah Reina, jadi aku sudah bertemu keluarganya.

Kamina memiliki rambut hitam seperti Reina, tapi bergelombang dan sedikit aneh.

Kelembutan rambutnya sepertinya mirip dengan kepribadian Kamina.

 

“Kamu udah dewasa, Yuu-chan.”

“Aku udah kelas dua SMA.”

“Kamu lebih kecil dari aku ketika pertama kali ketemu, sekarang aku harus liat ke atas.”

 

Sekarang aku satu kepala lebih tinggi darinya.

 

“Dulu aku bisa ngelus kepala Yuu-chan kaya gini————”

 

Kamina-san berdiri di depanku, menatapku tapi meraih kepalaku————dan Reina meraih lengannya dengan paksa.

 

“Kak…? Apa yang mau kakak lakuin?”

“Aku mau ngelus, tapi kamu selalu ngehentiin aku.”

“Apa kakak mau curi Yuu-kun dari aku? Kalo gitu, aku ngga bakal pernah maafin. Aku ngga bakal kasih biarpun itu membunuhku. Dia punyaku dan aku punyanya. Kalo masih mau coba ambil, ya udah. Aku bakal urus kaka pake tanganku sendiri—”

“Reina, ayo pelukan selamat tinggal. Sini, peluk aku.”

“Ah…! Uh, ya, peluk…!”

 

Saat aku memeluk Reina dari depan, dia balas peluk, wajahnya memerah.

Haha, imus, kecil dan menempel. Aku tak sabar untuk tidur dengannya sebagai bantal.

 

“Mmmm, kamu anget.”

“…Yuu-kun, tolong jangan terlalu godain Rei-chan.”

“Ya, calon suamiku cinta gila sama aku…”

 

Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia pikirkan.

Lalu aku berpamitan dengan Reina dan kakaknya, dan aku pulang.

Ketika aku kembali, Akane sudah pulang dari sekolah.

 

“Selamat Datang.”

“Aku pulang.”

“Bersihin kamar mandi.”

“Oke.”

 

Kami berbicara sambil berjalan melewati ruang tamu, dan aku pergi ke kamarku.

Aku membersihkan kamar mandi seperti yang aku disuruh dan menghabiskan beberapa waktu di kamarku.

Saat aku berada di kamar, aku menerima beberapa pesan dari Reina. Dia sangat manis.

Sebelum makan malam, aku melakukan beberapa pekerjaan yang bisa aku lakukan di rumah.

Aku perlu mendapatkan cukup uang untuk hidup bersama Reina di masa depan.

Apa yang aku lakukan sekarang adalah, bisa dibilang, pekerjaan pemrograman.

Aku hanya bekerja sepulang sekolah dan sebelum waktu makan malam, tetapi aku sudah mendapatkan cukup uang untuk dapat menghidupi diri.

Kami hampir tidak menghabiskan uang, jadi kami mungkin telah menabung cukup banyak untuk mengadakan pernikahan besar.

Setelah menyelesaikan pekerjaanku untuk hari itu, aku makan malam dengan Akane. Masakan Akane juga sangat lezat.

Aku bersantai di ruang tamu sebentar, menonton TV dengan Akane, dan juga berbicara dengan Reina melalui aplikasi perpesanan.

Itu adalah saat yang membahagiakan.

Kemudian, setelah melakukan beberapa latihan ringan, dan aku mandi.

Seperti biasa, aku berendam santai selama sekitar tiga puluh menit.

Ketika aku keluar dari bak mandi dan mengeringkan diri, teleponku berbunyi.

Melihat layar, aku tidak bisa menahan tawa.

 

“Apa dia nelepon lebih dari seratus kali hari ini?”

 

Sambil menggumamkan ini, aku bersiap untuk menjawab telepon saat telepon berdering lagi.

Pacarku selalu menggemaskan.

 


***

 

Tamat.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *