No thumbnail

Dua teman masa kecil yang selalu bertengkar terkunci di sebuah ruangan dimana mereka tak bisa keluar kecuali mereka jujur satu sama lain, dan setelah mereka keluar, mereka mulai berpacaran.

Adjust font size:

[Oneshot]

素直にならないと出られない部屋に閉じ込められた喧嘩の絶えない幼馴染の二人はその部屋から出た後つきあうことになったようです

Dua teman masa kecil yang selalu bertengkar terkunci di sebuah ruangan dimana mereka tak bisa keluar kecuali mereka jujur satu sama lain, dan setelah mereka keluar, mereka mulai berpacaran.

sumber: https://ncode.syosetu.com/n6162hc/

=================================


 

 

“Hei, kenapa sih kamu ngikutin aku?”
“Berisik, rumahku lewat sini juga, cewek bodoh!”

 

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah.

Aku, Kudou Takashi, melakukan percakapan yang sangat menjengkelkan dengan seorang gadis di kelasku yang berjalan di depanku. (TLN: Kudou (nama keluarga), Takashi (nama pemberian).)

Yah, aku masih SMP, jadi aku pasti anak-anak, bukan orang dewasa, tapi bukan itu yang aku bicarakan sekarang.

Teman masa kecilku, Takase Haruka, yang mana tetangga sebelahku, meneriakiku sambil menggoyangkan rambut pirangnya.

 

“Beneran deh, malu-maluin punya teman masa kecil kaya kamu!”

“Itu mestinya kata-kataku!”

 

Haruka, yang nenek dari pihak ibu adalah orang Barat, membuatnya menjadi seperempat campuran, menonjol bukan hanya karena rambutnya, tetapi juga karena penampilannya yang jauh dari orang Jepang kebanyakan.

Di sisi lain, aku hanya anak laki-laki biasa.

Kami dulu sering bermain dan jalan-jalan bersama, juga aku yakin kami bukan teman yang buruk, tetapi ketika kami mulai bersekolah di SMP, kami entah bagaimana berakhir dalam hubungan di mana kami tidak bisa rukun satu sama lain.

 

Sejujurnya, aku selalu menyukai Haruka.

Aku tahu dia gadis yang baik dan jujur, meskipun sekarang dia agak pemarah dan tidak ramah.

Lebih dari segalanya, dia membuatku merasa nyaman saat bersamanya.

Aku kira kau bisa mengatakan bahwa dia membiarkanku jadi diriku sendiri tanpa ada syaraf tegang.

Meskipun, dia bukan anggota keluarga.

Bukannya aku tidak bisa melihatnya sebagai kekasih atau lawan jenis, yang sering terjadi pada cerita teman masa kecil.

Haruka tampaknya telah memasuki masa pertumbuhan ketika dia berada di kelas senior SD, dan sejujurnya, penampilannya yang terlalu tidak ke-Jepang-an terlalu berlebihan untuk dilihat langsung oleh seorang anak perjaka seusianya.

Aku Suka Web Novel - tresnokoe[dot]xyz - Web Novel Translation

Bahkan, cara berpakaiannya saja sudah cukup membuatku ingin ()nani.

Nani, apa? Aku tahu kalau kau tahu apa yang aku maksud lah.

Jadi, jangan buat aku mengatakannya.

 

Aku benar-benar tidak bisa memikirkan gadis lain saat Haruka ada di sampingku.

Sejak dia memasuki SMP, kecantikan alaminya yang luar biasa telah menguat lebih jauh, dan yang bisa kulakukan hanyalah menghela nafas.

Dan sekarang, dia jauh dari jangkauanku.

Pengunduran diriku pada situasi putus asa seperti itu mengakibatkan aku membencinya 100 kali lebih banyak daripada aku menghargainya.

 

Aku pikir pemicu awalnya adalah hal yang sepele.

Suatu kali, Haruka mengatakan sesuatu kepadaku dan aku bereaksi berlebihan, dan sejak itu, kami memiliki hubungan yang menyimpang di mana kami saling mengutuk setiap kali kami membuka mulut.

Aku ingin meminta maaf padanya dan mendamaikan hubungan kami, tetapi karena gabungan rasa malu dan pubertas, kami masih tetap dalam hubungan ini.

Bahkan jika kami ingin memulihkan hubungan kami, dia dan aku tidak akan pernah bisa setara satu sama lain.

Dan kurasa perasaanku tidak akan pernah sampai padanya.

Jika itu masalahnya, aku lebih suka kalau dia membenciku sekali dan selamanya daripada melanjutkan hubungan setengah hati kami sebagai teman masa kecil.

Hari ini juga, aku memperkuat tekadku dan bertukar cacian dengan Haruka.

 

 

“Eh?”
“Eh, apa?”

 

Haruka berteriak kebingungan setelahku.

Kami hampir sampai di rumah ketika itu terjadi.

Kami berbelok dan sebelum kami menyadarinya, kami berada di tempat yang aneh.

 

“Ada di mana kita ini?”
“Kapan kita masuk?”

At the training ground where the members of the knight order practiced hard.
As an instructor, I was teaching swords to all the Knights.

"Then, the next step is to swing the sword a thousand times. You won't improve just by swinging blindly. You need to imagine the opponent's movement."
""A, thousand times?""
"Kaizer-san. Are you sure you not making a mistake one digit?"
"Oh, right."
"Hoo~..."
"When I and Elsa were in the village, we used to swing 10,000 times a day, but, you guys won't be done until the day changes, will you?
""You misinterpret the word mistake on one digit, are you?""

The standard of my and Elsa's training was probably too high, and most of them couldn't follow even the light menu.

"Come on, you'd better hurry up or it's going to get dark."

I clapped my hands and urged them.
The knights began to swing their swords while screaming.
As the warming up, they were running ten times around the training ground with their armor on, few of them could swing their swords properly.

"Is Knight Commander Elsa doing this training from an early age..."
"I thought she was a genuine genius swordsman.....that's why she's so strong.. we didn't even reach half effort she did."
"Either Kaizer-dono or Knight Commander Elsa is outrageous..."

I saw the helpless knights and mumbled.

"Umm. Looks like our normal isn't everyone's normal.''
"I was surprised when I came to the royal capital, because the training of the Knights, which was known to be tough, was felt only in lukewarm water. The training I had done with chichiue was, to most people, out of the norm."

Elsa murmured next to me.

"I didn't mean to be particularly strict...."
"I think so, too"

The knights couldn't endure the training and exhausted. Then one by one, they fell like a broken doll.
But, one person among them――.

 

Kami menemukan diri kami tidak di luar, tetapi di dalam ruangan putih.

Di ruangan tanpa jendela, dinding di semua sisi, dan hanya satu pintu yang tampaknya pintu masuk.

 

 

Aku Suka Web Novel - tresnokoe[dot]xyz - Web Novel Translation

 

――*krak* *krak* *krak*

 

 

 

“Engga kebuka.”

 

Haruka mencoba memutar kenop pintu untuk membuka pintu, tapi tidak ada tanda-tanda pintu terbuka.

 

“Minggir. Biar aku aja.”

 

Aku memutar kenop pintu menggantikan Haruka.

Aku mendorong dan menarik pintu, tapi itu hanya membuat suara gemerincing dan tidak bergerak.

Kemudian aku melihat beberapa kata mengambang di pintu.

 

 

 

[Ruangan ini adalah ruangan kebenaran. Kecuali dua orang yang memasuki ruangan ini jujur ​​dan mengutarakan yang sebenarnya tentang diri mereka, mereka tidak akan diizinkan untuk pergi.]

 

 

 

“Apa, apa ini lelucon?”

 

Haruka marah.

 

“Aku ngga punya waktu buat guyonan kaya gini.”

 

Haruka mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi pihak luar.

 

“Ngga mungkin…….”

“Ada apa?”

“Ngga ada sinyal……”

 

Cecilia akhirnya sampai di depan makhluk buas itu.

Perbedaan ukurannya begitu besar sehingga ia harus mendongak untuk melihat wajah binatang itu, dan Cecilia yang ramping akan terinjak-injak dalam sekejap.



"GRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!"

"Aku ngerti...... aku ngerti kok, Julis ......"



Cecilia memeluk kaki depan yang besar dan kokoh itu.



"Itu pedih, kan? Itu menyiksa, kan? Aku yakin Julis berusaha ngelindungin seseorang terus menjadi kaya gini....... Beneran deh, Julis itu baik banget. Biarpun dia sangat menderita sendiri."



Makhluk buas itu mengarahkan kaki depannya yang lain ke Cecilia, mencoba menarik Cecilia yang memeluknya menjauh.

────lalu.



"Eh!?"

"I, ini......"



Kaki depan itu berhenti tepat pada waktunya.

Cecilia tidak terluka, dan kaki depan itu berhenti tanpa tanda perlawanan.

Namun penderitaan itu muncul dalam bentuk teriakan.



"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!"



Tetapi.



"Aku belum bisa balas budi sama Julis buat segalanya...... Julis selalu ngelindungi aku, tapi aku terus banyak ngerepotin Julis.────Cuma ini yang bisa aku lakuin buat Julis sekarang."



Cecilia menguatkan lengannya yang memeluk kaki depan itu.

Ia ingin kehangatannya dirasakan, ia ingin perasaannya tersampaikan.

Cecilia tersenyum lembut pada makhluk buas itu, mengatakan kepadanya bahwa tidak apa-apa sekarang, bahwa dia tidak perlu berusaha terlalu keras.



"Aku bakal ada di sisi Julis...... sepanjang waktu, sepanjang masa. Julis ngga cocok sama penampilan kaya gitu, tahu? Kalo kamu balik lagi ke Julis yang biasanya, yang konyol, yang bisa diandalin, sama yang lembut.────Aku bakal seneng banget."

Aku mengeluarkan ponselku sendiri dan menemukan situasi yang sama dengan Haruka.

Aku tidak bisa menelepon atau mengirim pesan teks.

Aku tidak dapat terhubung ke internet.

 

“Apa-apaan ini? Biarin aku keluar, biarin aku keluar dari sini!”

 

Haruka menggedor pintu.

Aku dengan tenang mengetuk dinding untuk memeriksa bahan untuk melihat apakah ada jalan keluar lain.

Jika bagian sisi seberang dinding berlubang, dalam kasus terburuk kami memiliki pilihan untuk menghancurkannya, tetapi bahannya sangat kuat sehingga memukulnya sedikit lebih keras tidak mungkin merusaknya.

 

“Aku mesti ngapain……”

 

Haruka duduk di lantai setelah kepanikannya telah mereda.

Aku mencoba melemparkan barang-barang ke langit-langit dan juga dinding untuk melihat apakah aku bisa menemukan sesuatu untuk keluar dari sini, tetapi hasilnya tidak bagus.

 

“Sialan, ngga ada gunanya. Kayaknya aku ngga bisa keluar sama sekali.”

 

Akhirnya, aku menyerah dan duduk di lantai.

Aku penasaran berapa lama waktu yang telah berlalu sejak memasuki ruangan ini.

Aku melihat arlojiku dan melihat bahwa entah bagaimana jarum berhenti pada saat kami akan masuk.

Hal yang sama terjadi dengan jam di ponselku.

 

Our fanpage
Aku Suka Web Novel - tresnokoe[dot]xyz - Web Novel Translation

 

 

 

――*kruyuk kruyuk~*

Aku mendengar suara perut yang keroncongan.

Ini bukan milikku.

Jadi hanya ada satu jawaban untuk itu.

Saat aku melihat Haruka, dia memperhatikan tatapanku dan memalingkan wajah, ia terlihat tidak senang.

 

“Kenapa? Kalo kamu mau ketawa, silakan ketawa aja!”

 

Aku tidak menanggapinya, tetapi membuka tasku dan menelusuri isinya.

Pasti ada beberapa kue yang aku bawa untuk dimakan setelah makan siang hari ini. Itu adalah kukis dengan banyak potongan choco chips di atasnya.

Aku mengeluarkan bungkusan itu dari tasku dan tanpa berkata apa-apa menawarkannya kepada Haruka.

 

“Kamu, ini.”

“Makan aja. Kamu pasti lapar, kan?”

“Tapi……”

 

Haruka ragu-ragu.

Jika kau tidak bisa keluar dari ruangan ini, kau secara alami tidak bisa makan.

Dan tentu saja, makanan sangat berharga.

 

“Ngga apa-apa.”

“Tapi kalo cuma aku yang makan……”

 

Haruka ragu-ragu lagi.

Aah, benar juga.

Haruka selalu menjadi anak yang selalu berpikir bahwa tidak ada yang baik jika itu hanya untuk dirinya sendiri.

Ketika dia di taman kanak-kanak, dia berbagi permen yang diberikan seseorang kepadanya dengan semua temannya dan menangis ketika dia tak kebagian bagiannya sendiri.

Pada waktu itu……

 

“Kalo gitu, kita bagi dua!”

 

Benar, waktu itu aku juga mendapat satu dari Haruka, aku membaginya menjadi dua dan kami memakannya bersama.

Ada lima kukis, jadi kami membaginya menjadi dua setengah.

Kami membaginya tepat menjadi dua.

 

“Makasih…….”

 

Kata Haruka dan membawa kukis itu ke mulutnya.

Mau tak mau aku terkunci pada bibir mengkilapnya itu.

Memikirkan bibir indahnya itu akan dimiliki orang lain selainku membuatku merasa tidak enak.

Untuk menghilangkan pikiran semacan itu, aku membawa kukis ke mulutku karena aku merasa lapar juga.

Yang bisa kudengar hanyalah suara kami berdua mengunyah kukis dalam diam.

 

 

 

 

Setelah selesai makan, kami melihat sekeliling ruangan untuk melihat apakah ada cara untuk keluar, berharap mungkin ada.

Kami mencari di seluruh ruangan dari satu ujung ke ujung lainnya untuk melihat apakah ada cara untuk keluar.

Tapi hasilnya sama.

Kami berdua kembali duduk di lantai.

 

 

 

(Meski gitu, apa-apaan semua ini sih?)

 

 

 

Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang terjadi di sini.

Ini benar-benar terisolasi dari akal sehat.

Ini tidak normal.

Tapi tidak ada gunanya memikirkannya.

Fakta bahwa kita berdua terjebak seperti ini adalah satu-satunya fakta mutlak yang tidak bisa disangkal.

Ngomong-ngomong, ada petunjuk di pintu untuk keluar dari sini.

 

 

 

(Apa maksudnya sama “jujur ​​dan utarakan yang sebenarnya” itu ya?)

 

 

 

Saat ini, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengikuti instruksi dari siapa pun yang mengatur ruangan ini.

Mematuhi persyaratan adalah satu-satunya hal yang mungkin bisa membuat kita keluar dari ruangan ini.

Itu benar-benar akan menjadi kunci untuk keluar dari ruangan ini.

Pertanyaannya adalah apa kunci itu, tetapi aku tidak perlu khawatir tentang itu.

Karena aku hanya bisa memikirkan satu hal yang aku rahasiakan dari Haruka.

 

Saat aku melirik Haruka, dia memiliki ekspresi bingung di wajahnya.

Aku makan kue sebelumnya, tapi aku rasa banyak waktu telah berlalu sejak itu.

Aku telah kehilangan semua penginderaan waktu dan bahkan tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu.

Aku mulai lapar lagi, dan aku sedikit pusing karena lapar.

Jika ini terus berlanjut, bukan hanya nyawaku tapi juga nyawa Haruka mungkin dalam bahaya.

Jadi, aku membulatkan tekad dan memutuskan.

 

“Hei, Haruka. Apa kamu tahu apa maksudnya tulisan di pintu?”

 

Haruka membalas tatapanku dengan ekspresi bingung.

 

“Jujur dan utarakan yang sebenarnya, kan? Kalo kita nyembunyiin sesuatu dari satu sama lain, kita mesti ngutarain sejujur-jujurnya.”

“Bener. Apa ada yang disembunyiin Haruka dari aku?”

“……Ngga ada.”

“Gitu……”

 

Aku punya perasaan kalau aku ada kesempatan.

Aku punya sedikit harapan kalau Haruka punya perasaan yang sama denganku.

Namun sayangnya, sepertinya tidak berjalan semulus kisah romansa.

 

Jika apa yang Haruka katakan itu benar, dan jika Tuhan telah menciptakan situasi ini.

Kurasa niat-Nya adalah agar aku mengakui perasaanku kepada Haruka dan ditolak, sehingga kita bisa membersihkan hubungan kita yang berantakan.

Itu artinya aku tidak lagi diizinkan berada di dekat Haruka, bahkan sebagai teman masa kecil yang tidak akur dengannya.

 

Aku menatap wajah Haruka.

Dia tampak sedikit tidak sehat dan kulitnya tidak bagus.

Jika kau terjebak di tempat seperti ini, itu wajar.

Tampaknya tak ada waktu lagi.

Aku berdiri tiba-tiba dan berjalan ke pintu.

Lalu aku menatap Haruka dan berkata.

 

“Haruka, maaf. Aku bakal ngutarain yang sebenarnya sekarang. Kalo itu bisa ngeluarin kita dari sini, aku pengen cepetan keluar. Kamu ngga perlu kasih aku jawaban.”
“?”

 

Haruka memiliki ekspresi bingung di wajahnya.

Ah, kamu masih saja manis bahkan dengan ekspresi wajah seperti itu.

Tapi ini mungkin terakhir kalinya aku melihat wajahmu seperti itu.

 

 

 

 

“Takase Haruka, aku suka kamu. Aku udah cinta kamu dari lama.”

 

Aku berbalik darinya, meraih kenop pintu, dan memutarnya dengan sentakan.

 

“Sialan, apa-apaan ini! Aku udah ngutarain! Aku udah ngutarain semua kebenaranku dengan patuh! Ngga lagi! Buka, buka pintunya sekarang, Dasar sialan!”

 

Aku menggedor pintu, tapi tidak bergerak sama sekali.

Aaa~ malu banget~!

Itu tidak berjalan sesuai dengan skenarioku di mana aku memutuskan untuk mengutarakan perasaanku dan segera pergi dari sini tanpa mendengar jawaban dari Haruka.

 

Kau main-main sama bocah perjaka naif ya!

Aku pasti ngga akan biarin kau lolos gitu aja!

Aku terus menggedor pintu dengan amarah.

 

“Maafin aku!”

 

Tiba-tiba ada yang memelukku dari belakang.

Aku tidak perlu memikirkan siapa itu.

Itu adalah orang yang sama yang baru saja aku utarakan perasaanku.

Sentuhannya lebih lembut dan lebih hangat dari yang pernah aku rasakan sebelumnya.

 

“Maaf! Aku, aku bohong sama kamu, aku juga suka, aku juga suka kamu, aku suka kamu pake banget! Aku bener-bener cinta kamu!”
“Eh?”

 

 

 

――*krak*

 

 

 

Pada saat itu, pintu, yang tidak bergerak tidak peduli seberapa banyak aku dorong, tarik, atau bahkan banting, terbuka dengan mudahnya.

 

 

 

 

 

 

“Hah?”

 

Hal berikutnya yang aku tahu, kami berdua berdiri di jalan dekat rumah.

Ruangan putih tempat kami berada di sana sebelumnya tak ada.

Seolah-olah tidak ada yang terjadi dari awal.

Aku memeriksa arlojiku dan melihat bahwa jarum mulai bergerak.

Tidak banyak waktu yang berlalu.

 

 

 

(Apa itu cuman mimpi?)

 

 

 

Apa itu yang namanya waking dream?

Aku penasaran apa itu mimpi yang disebabin sama keinginanku buat punya perasaan saling suka sama Haruka.

 

 

――Tapi, itu cinta tak berbalas.

 

 

Itulah yang kupikirkan dan aku meninggalkan Haruka dan mulai berjalan.

 

“Bentar!”

 

Mau tak mau aku melihat ke pemilik suara itu.

 

“Tolong, aku bakal, aku bakalan jujur ​​sama kamu juga! Jadi, tolong jangan tinggalin aku sendiri lagi!”
“Haruka!”

 

Saat aku mendengar kata-katanya, aku segera berlari ke arahnya dan memeluknya erat-erat.

 

“Maaf, gara-gara aku ngga punya nyali.”
“Kamu salah, itu gara-gara, aku yang engga jujur ​​sama kamu.”

 

Aaah, syukurlah.

Itu bukan mimpi!

Sepertinya kami berdua sangatlah mirip.

Haruka menatapku dengan mata lembab.

Jantungku berdetak kencang dan mulai berdetak lebih gila.

Aku meletakkan tanganku yang gemetar di bahu Haruka, dan pipinya yang putih itu merona sedikit merah muda.

Haruka sedikit mendongakkan wajahnya dengan mata tertutup dan aku dengan lembut mencium bibirnya.

Ciuman pertama yang aku lakukan dengannya, terasa sedikit manis, terasa seperti cokelat.


============ FIN ============

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *